Menelusuri Sejarah Nama Batavia Hingga Menjadi Jakarta dan Jejak Rempah Panggangan Ibu Kota

4 August 2026 · oleh Rubb N Roll · 6 menit baca
Daftar Isi
  1. Menelusuri Sejarah Nama Batavia Hingga Menjadi Jakarta di Atas Nyala Api
  2. Sunda Kelapa: Bandar Rempah yang Memikat Dunia (Abad Ke-14)
  3. Jayakarta: Kota Kemenangan & Pusat Peleburan Cita Rasa (1527–1619)
  4. Batavia: Era Kolonial, Benteng Kokoh, dan Lahirnya Kuliner Betawi (1619–1942)
  5. Asal-usul Nama Batavia
  6. Djakarta Tokubetsu Shi: Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
  7. Perjuangan Arnold Mononutu dan Pengesahan Nama Jakarta (1945–1961)
  8. Ringkasan Perjalanan Nama Jakarta
  9. Dari Jalur Rempah Kolonial ke Pitmaster Modern: Panggangan Bergaya Nusantara

Menelusuri Sejarah Nama Batavia Hingga Menjadi Jakarta di Atas Nyala Api

Bagi para pecinta daging panggang dan kobar api, rempah-rempah adalah jiwa dari setiap gigitan. Namun, tahukah kamu bahwa pelabuhan utama tempat rempah-rempah Nusantara diperdagangkan ratusan tahun lalu adalah panggung utama pertarungan bangsa-bangsa dunia? Menyusuri sejarah nama Batavia hingga menjadi Jakarta bukan sekadar membaca catatan tanggal dan peristiwa politik, melainkan juga memahami bagaimana bumi Jayakarta menjadi titik temu berbagai budaya, teknik memasak, dan kombinasi bumbu spektakuler.

Sama halnya dengan proses peracikan bumbu racik dry rub yang membutuhkan waktu, suhu presisi, serta kombinasi bahan yang seimbang, kota Jakarta terbentuk melalui proses panjang yang membakar semangat para pejuang. Dari pelabuhan kuno Kerajaan Pajajaran hingga menjadi ibu kota metropolitan, mari kita bedah transformasi nama dan peradaban yang meliputinya.

Sunda Kelapa: Bandar Rempah yang Memikat Dunia (Abad Ke-14)

Sebelum dikenal sebagai metropolitan yang tak pernah tidur, wilayah ini berawal dari sebuah kota pelabuhan bernama Sunda Kelapa di bawah naungan Kerajaan Pakuan Pajajaran pada abad ke-14. Beberapa literatur sejarah bahkan memperkirakan aktivitas pelabuhan ini sudah berdenyut sejak abad ke-5 sebagai kelanjutan dari zaman Kerajaan Tarumanegara.

Sebagai bandar niaga yang amat strategis di kawasan Asia Tenggara, Sunda Kelapa menjadi magnet bagi para pedagang asing. Kapal-kapal besar mengangkut lada, pala, cengkih, dan kayu manis berlabuh di sini. Menurut catatan Wikipedia Sunda Kelapa, daya tarik rempah ini pula yang memicu bangsa Portugis dari Malaka untuk datang dan berusaha membangun benteng pertahanan pada awal abad ke-16.

Namun, ambisi Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah di kawasan Selat Malaka dan sekitarnya terhenti. Pada tahun 1527, pangeran asal Kesultanan Demak, Raden Fatahillah (Fatahillah), memimpin pasukan gabungan Demak-Cirebon untuk merebut Sunda Kelapa dan mengusir Portugis.

Jayakarta: Kota Kemenangan & Pusat Peleburan Cita Rasa (1527–1619)

Keberhasilan Raden Fatahillah mengusir Portugis pada tanggal 22 Juni 1527 menandai era baru. Nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta, yang berarti “Kota Kemenangan” atau “Kemenangan yang Nyata”. Tanggal 22 Juni inilah yang kelak diabadikan sebagai hari lahir kota Jakarta.

Para pedagang Eropa kala itu sering menyebut Jayakarta dengan lafal Jacatra. Selama hampir satu abad, Jayakarta berkembang pesat sejajar dengan Banten sebagai pusat perdagangan rempah-rempah internasional. Di pasar-pasar Jayakarta, beraneka ragam bumbu lokal berinteraksi dengan tradisi kuliner Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa.

Melihat potensi ekonomi Jayakarta yang amat besar, kongsi perdagangan Belanda bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di bawah Gubernur Jenderal Pieter Both mulai mengincar kota ini. Pada tahun 1619, VOC memutuskan memindahkan pusat operasi dagang mereka dari Banten ke Jayakarta.

Batavia: Era Kolonial, Benteng Kokoh, dan Lahirnya Kuliner Betawi (1619–1942)

Awalnya, VOC hanya menyewa lahan seluas 1,5 hektar di tepi Sungai Ciliwung untuk membangun kantor kayu dan gudang penyimpanan rempah bernama Nassau Huis pada tahun 1611. Namun, saat Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memegang tampuk kekuasaan, situasi berubah drastis.

Coen membangun bangunan batu kokoh bernama Mauritius Huis yang dilengkapi tembok setinggi 7 meter dan meriam-meriam berat. Pada tanggal 30 Mei 1619, Belanda melancarkan serangan total yang membumihanguskan kawasan pemukiman warga dan Istana Jayakarta. Di atas puing-puing peninggalan Jayakarta inilah VOC mendirikan benteng baru dan menanamkan kekuasaan kolonial secara penuh.

Asal-usul Nama Batavia

Secara resmi pada tanggal 4 Maret 1621, pemerintah kolonial membentuk pemerintahan kota bernama Stad Batavia. Kata “Batavia” diambil dari nama suku kuno Batavi, sebuah suku bangsa Jermanik yang pernah mendiami wilayah sekitar Sungai Rhein pada zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda menganggap suku Batavi sebagai leluhur moyang mereka.

Selama lebih dari tiga abad (1621–1942), nama Batavia melekat kuat. Wilayah ini berkembang pesat meski diwarnai benteng parit dan pembagian kelas sosial yang ketat. Dinamika kependudukan yang mempertemukan budak pendatang, pedagang Tionghoa, serdadu Eropa, serta warga lokal melahirkan sebuah suku baru: Suku Betawi.

Proses akulturasi budaya ini juga memicu ledakan kreasi kuliner. Daging sapi dan kambing yang diolah dengan gaya panggangan tradisional Betawi, dilumuri bumbu kaya rempah seperti ketumbar, jinten, biji pala, dan kecap manis, menjadi warisan cita rasa rasa yang kita nikmati hingga hari ini.

Djakarta Tokubetsu Shi: Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Roda sejarah berputar cepat ketika Perang Dunia II meletus. Setelah memenangkan serangkaian pertempuran di Asia Pasifik, pasukan Kekaisaran Jepang mendarat di Pulau Jawa pada Maret 1942. Batavia jatuh ke tangan Jepang pada 5 Maret 1942 setelah penyerahan tanpa syarat dari pihak sekutu di Kalijati, Subang.

Untuk meraih simpati rakyat Indonesia dan menghapuskan pengaruh barat, pemerintah militer Jepang menghapus nama Batavia dan menggantinya menjadi Djakarta Tokubetsu Shi (Kota Khusus Djakarta). Nama “Djakarta” sebenarnya merupakan bentuk pengindonesiaan dari nama lama Jayakarta/Jacatra.

Nama Djakarta kian populer di kalangan tokoh pergerakan nasional. Dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, tercantum secara tegas tempat perumusan: “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ’05”.

Perjuangan Arnold Mononutu dan Pengesahan Nama Jakarta (1945–1961)

Meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, Belanda melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) berupaya merebut kembali wilayah Indonesia. Selama kurun waktu 1945–1949, bentrok militer dan diplomasi terus terjadi. Pihak Belanda bahkan sempat memaksakan penggunaan nama Batavia kembali di area yang mereka kuasai.

Perjuangan mengembalikan identitas nasional mencapai titik terang setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan RI pada 27 Desember 1949. Tiga hari setelah pengakuan kedaulatan tersebut, Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat (RIS), Arnold Mononutu, mengambil langkah berani.

Arnold Mononutu secara resmi menetapkan bahwa sebutan “Batavia” ditanggalkan selamanya dan digantikan dengan nama **Jakarta** dalam seluruh dokumen publik serta penyiaran negara. Keputusan tegas ini diambil untuk mengikis habis sisa-sisa trauma kolonialisme dan menegaskan kedaulatan penuh bangsa Indonesia.

Secara hukum kedudukan Jakarta semakin kokoh ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 2 Tahun 1961, yang membentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya pada 31 Agustus 1961. Sejak saat itu, Jakarta resmi berdiri tegak sebagai ibu kota Republik Indonesia sebagaimana dicatat dalam arsip sejarah Situs Resmi Pemprov DKI Jakarta.

Ringkasan Perjalanan Nama Jakarta

  • Sunda Kelapa (Abad ke-14 – 1527): Bandar pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran yang kaya akan lalu lintas perdagangan rempah.
  • Jayakarta (1527 – 1619): Dinamai oleh Raden Fatahillah setelah mengusir Portugis, bermakna Kota Kemenangan.
  • Batavia (1619 – 1942): Dibangun oleh VOC Belanda di bawah JP Coen, diambil dari nama suku Batavi di Eropa.
  • Djakarta Tokubetsu Shi (1942 – 1945): Nama resmi pada masa pendudukan militer Kekaisaran Jepang.
  • Jakarta (1949 – Sekarang): Diresmikan oleh Arnold Mononutu pasca-KMB dan disahkan melalui undang-undang sebagai DKI Jakarta Raya.

Dari Jalur Rempah Kolonial ke Pitmaster Modern: Panggangan Bergaya Nusantara

Memahami perjalanan panjang sejarah nama Batavia hingga menjadi Jakarta membuktikan satu hal penting: rempah-rempah adalah denyut nadi yang membentuk karakter bangsa ini. Keberanian para leluhur dalam mempertahankan identitas dan mengolah kekayaan alam harus terus kita rayakan.

Bagaimana cara terbaik merayakannya hari ini? Tentu saja dengan mengobarkan api panggangan dan meracik sajian BBQ berkualitas premium! Semangat akulturasi rempah dari era Sunda Kelapa hingga Jakarta modern bisa kamu hadirkan langsung di dapur atau halaman belakang rumahmu.

Tak perlu repot menumbuk belasan jenis bumbu secara manual untuk mendapatkan aroma asap yang mantap. Dengan varian dry rub dan marjinasi siap pakai dari Rub N Roll, kamu bisa mengubah potongan steak, short ribs, atau brisket lokal menjadi hidangan kelas pitmaster. Kombinasi ketumbar, bawang putih, cabai pilihan, serta sentuhan gurih yang pas siap meresap hingga ke serat daging terdalam saat terpapar karbon dan asap kayu.

Jadikan setiap sesi BBQ sebagai momentum menghargai sejarah. Nyalakan arangmu, balurkan bumbu racikan terbaik, dan biarkan aroma rempah Nusantara membumbung tinggi menyelimuti sajian pangganganmu bersama Rub N Roll!

RubNRoll
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.